Alhamdulillah, Aku Diberi Kesempatan Kedua

Kemarin benar2 menjadi pengalaman yang paling menarik dalam hidupku. Saat semuanya seolah2 sudah takmungkin lagi, saat aku merasa sangat dekat dengan kematian.

….

Sore-sore kemaren, aku sedang disibukan dengan urusan kantor untuk kepergian ke Cina. Sekitar pukul 3 sore kemarin. Akhirnya aku bisa bernafas sedikit lega, karena kerjaanku sudah kelar untuk hari ini. Walaupun tidak semuanya, tapi deadline untuk menerima surat undangan dari Konjen Cina sudah selesai. Dan dari pihak Konjen Cina bersedia mengirimkan surat tersebut 10 menit lagi. Sambil menunggu surat itu sambil santai-santai aku main game online…. (harus tetep exist di game online…hehehe)

Kok belum sampai-sampai surat itu, padahal sudah sepeuluh menit lewat. Akhirnya kuputuskan aku menunggu surat itu, lagipula waktu masih menunjukkan pukul 3 lebih. Sambil main game online, kok aneh kursiku goyang2 sendiri. aku merasa tubuhku bergetar. Aku menoleh ke belakang, kupikir aku dikerjain temen. Aku lihat di sekitarku tidak ada orang. Akhirnya aku berdiri dan menatap ke arah temanku yang berada di seberang.

“Gempa yaa?” tanyaku takpercaya, aku sungguh takut karena saat itu aku berada di lantai 22.

“Se…….pertinya iya…..”. Jawabnya tak yakin, dia datang ke arahku sambil berpegang tangan, kami berdoa.

Aku melihat lemari dan meja di sekitarku bergoyang-goyang. Pintu2 lemari membuka dan menutup sendiri. Aku mulai panik, sontak aku lupa akan laptopku dan tasku. Karena gempa itu semakin keras. Langsung kuraih HP yang berada di atas meja kerjaku. Sambil berpegangan tangan aku jongkok dengan temanku, sambil berdoa. Yang kuingat saat itu hanya Ibuku. Aku tak berpikir untuk mengabari orang lain, selain Ibuku. Kalaupun saat itu saat terakhir aku hanya ingin mendengar suara Ibuku, aku ingin meminta maaf ke Ibu, dan mungkin aku juga akan bilang bahwa “Aku sayang Ibuku”. Sambil jongkok kami berdoa, menyebut dan berdoa. Sepertinya hanya itu yang bisa kami lakukan.

Sayangnya HP Ibuku tidak bisa aku hubungi. Aku semakin panik, karena mungkin saat itu terakhirku. Aku berusaha menelpon seseorang yang special, juga tidak diangkat. Akhirnya aku bisa menelepon Bapakku. Setidaknya dari ketiga orang itu ada yang bisa mendengarku. Senang sekali mendengarnya.

Gempa semakin keras, aku semakin panik, dalam bayanganku sudah tidak mungkin untuk turun lewat tangga darurat dari lantai 22. Aku pasrah saja berdiri dekat tiang dan “ngendon”, sambil menunggu semuanya dan berharap baik.

Tapi temanku menarik tanganku untuk mengikuti dia, akhirnya dia lari ke tangga darurat. Aku merasa takyakin, dengan itu.

“Eh gak mungkin kita turun lewat sini”. Kataku.

“Ayo, bisa koq”. Jawab temanku tegas.

Temanku menarikku ke arah tangga darurat, aku mengajak seorang temanku lain yang berada jauh di seberang. Kami menuruni tangga bersama-sama. Aku sambil berusaha menghubungi Bapakku. Sampai-sampai aku berlari tanpa sepatu. Sebelah kanan HP, sebelah kiri sepatu. Dalam tangga darurat pun aku mendengar suara “krieeek…krieeek….” suara tembok yang menahan goyang. Aku ngeri mendengarnya, pusing juga di tangga darurat dalam keadaan gempa. Aku lari takkunjung sampai. Pada akhir kulihat secercah cahaya berhamburan dari pintu kaca yang langsung tembus ke luar gedung. Namun, sayangnya pintu itu terkunci… Memang gila kantor ini. Tanpa ada simulasi, tanpa ada safety… Karena saat gempa juga lift masih menyala, kulihat orang2 juga berhamburan keluar dari lift. Seharusnya lift langsung dimatikan…

Akhirnya sambil terengah2 kami melihat gedung. Ketika di luar, aku sudah pasrah dengan apa yang terjadi dengan harta bendaku, laptop, dompet, dll. Seorang teman mengajak ke lantai 22 lagi, untuk mengambil tas dan laptop. Dengan segenap keberanian aku kembali. Aku naik lift, karena lift belum juga mati. Kemudian dengan tergesa-gesa aku masukkan semua barang2ku ke tas. Dan menuju lift, ternyata lift sudah dimatikan (Prosedur safety yang teeelaaaat……!)

Akhirnya dengan tergesa2 turun dari gedung lewat tangga darurat untuk yang kedua kalinya.Alhasil aku dan teman2 menuruni tangga 44 lantai….

…….

Ketika begitu dekat dengan kematian, kadang kita menjadi sangat takut dan panik. Namun, ketika seolah2 kematian itu jauh darinya, padahal kematian sewaktu-waktu akan dekat dengan kita. Gempa mungkin salah satu hal yang bisa mendekatkan kita pada kematian. Padahal kita tidak pernah tahu kapan?

Ada satu hal yang harusnya kita persiapkan karena kita takkan pernah tahu kapan itu terjadi, jadi persiapkan baik2 diri kita menghadapinya. Dengan selalu melakukan berusaha sekeras mungkin, bila waktu kita masih ada, dan selalu berbuat yang terbaik untuk siapapun, kapanpun, apapun…

3 Comments

  1. some specialnya kayaknya lagi mencoba menyalakan api pilot pembakaran untuk Burn Pit di hutan antah berantah…………….dimana sinyal selular phone sudah raib semua……………..begitu tiba di kantor dapet kabar dari temen2 sekantor bahwa dijakarta terjadi gempa 7,3 Skala Richter………………..langsung teringat kudu call neh……………syukurlah selamat meski harus turun 44 lantai sambil terengah2 dalam keadaan puasa………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s