Sebuah renungan yang patut kita resapi

Hmm….pagi2 aku buka email, seorang mengirimi aku tentang sebuah renungan. Memang saat ini aku sedang butuh dorongan untuk melewati hidup ini. Karena aku sudah terlalu payah dengan semuanya. Insyallah aku bisa melewatinya. Sebelum aku dapat puisi WS. Rendra ini. Aku pun sudah sering merenungkan akan hal itu, karena segala sesuatu bukan milik kita, dan kita harus siap bila sewaktu2 diambil. Segala sesuatu harus ikhlas bila kita sedang bersedekah atu infaq, karena sebelumnya kita pun tidak mempunyai apa2, selain diri kita dan amalan kita. Apalah arti uang dan materi yang berlimpah bila kita tidak mendapatkannya dengan baik, untuk apa kita memiliki harta yang berlimpah bila kita tidak bisa membantu sodara2 kita yang membutuhkan? Semua itu hanya semu, semuanya pasti akan kita tinggalkan suatu saat nanti, akan kah kita siap menghadapi itu??? (Galz)

Renungan indah W.S Rendra

Seringkali aku berkata,

Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini

hanyalah titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya

Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya

Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya

Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya: mengapa Dia menitipkan padaku???

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???…

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah

kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,

kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,

Seolah semua »derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika: aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih. Kuminta Dia membalas »perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah… »ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

-WS Rendra-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s