Kehilangan 1)

Sudah seminggu ini suasana kantor tidak kondusif. Bingung gak karuan, beres2, buang2 kertas yang gak penting, nge-packing pindahan. Sudah dipastikan kantor kami harus pindah dari kantor lama menuju kantor di kota yang sedikit lebih kecil. aku pribadi sering ke sana, karena di sana ada lab. Saat ini gedung baru sudah berdiri di sebelahnya yang menjadi bakal kantor aku. Jujur aku sudah 4 tahun di kantor ini. Suka duka, ya bisa terlihat dicerita2 sebelumnya yang aku tidak betah di sini. Tapi lama2 juga aku menjalaninya. Akhirnya mulai jatuh cinta dengan kantor ini, setelah membaca Habibie-Ainun. Jatuh cinta setelah aku mengenalnya lebih dekat. Walaupun tidak dengan orang2nya, yah hanya beberapa saja yang menurut saya annoying.  But for all, okay.

Tadi direktorat yang selantai dengan aku mulai pamit. Ya memang benar kami sama2 di kawasan itu, tapiii beda gedung dan jauh sekali. Kalau pindah lantai di gedung ini mungkin tidak masalah, bisa bertemu di kantin atau di lift. Tapi pindah di kawasan itu yang dengan gedung yang terpisah agak jauh. Ada perasaan kehilangan yang teramat sangat. Yah aku gak menyangka bahwa aku akan kehilangan mereka.

Aku terbiasa absen di belakang resepsionist, suasana kantor pagi yang riuh, sholat dhuhur ke masjid lantai 2,  makan siang di kantin lantai 3, ke sarinah, ke menara thamrin gedung sebelah beli tom yam, makan di belakang kantor beli soto mie, ayam bakar, ikan bakar, dan selendang mayang. Rute2 seperti itu biasa aku lewati selama 4 tahun lebih. Perasaan kehilangan pasti ada.

Sempat tadi mataku berat melepas teman2 beda direktorat itu. Aku sedih bukan karena berfikir bagaimana nanti tidak ketemu, tapi lebih kehilangan suasana itu. Ternyata tidak mudah memindahkan orang karena punya perasaan.

Bukan juga masalah kehilangan gedung, toh kami juga tidak pernah merasa memiliki. Gedung yang sekarang aku tempati bukan milik kami tapi memang dibangun untuk kami, dengan masterplan yang maha besar!

Waktuku sudah tinggal 7 hari untuk berapa di sini. Saatnya menikmati apa yang tersisa, kenangan yang begitu banyak. Setiap hari begitu berharga, aku memandang gedung ini, merasa bahwa gedung ini tetap kokoh seperti 4 tahun yang lalu dengan gagahnya berdiri di tengah2 kota yang katanya megapolitan. Gedung yang menyerukan semangat teknologi. Sebentar lagi aku gak tau apa nama gedung ini.

Aku berharap kami akan tetap semangat menyerukan teknologi walau kami jauh di pelosok. Suara kami tetap terdengar. Kami siap bangkit dan membangun yang lebih besar, tapi semua juga tergantung nahkoda kapal yang membawa kami.

Sesaat aku berpikir hanya ingin terpenjam dan saat membuka mata semua sama seperti dulu.

Tapi tidak, aku hanya melihat cubical2 kosong berderet2.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s