Tak selamanya judul boring membuat boring

Hari kamis ini saatnya saya mengantar si kecil terapi okupasi. Kenapa terapi? Karena si kecil belum bicara sepatah katapun yang berarti dan konsisten. Walaupun begitu syukur alhamdulillah, Allah SWT selalu memberinya kesehatan jasmani yang luar biasa. Ohya jika ingin mengetahui lebih banyak soal my late talker son, silahkan lihat ini.

Bisa dikatakan sudah 3 bulan ini, saya seminggu bisa masuk 4 hari saja. Sebenarnya hanya mengantar terapi saja, saya tidak ikutan dalam proses terapi, tapi berhubung tidak ada siapapun yang berkewajiban mengantar (hanya saya dan ayahnya yg wajib mengantar). Akhirnya kami berbagi tugas per dua minggu kami gantian mengantar si kecil.

Beruntung tempat belajarnya si kecil dekat dengan salah satu mall mewah di Jakarta Selatan, kadang2 saya sembari mengantar si kecil, mampir jalan2 ke sana daripada nunggu di ruang tunggu selama 2 jam. Tapi ada kalanya saya hanya menunggu sambil membaca novel atau main game.

Hari ini saya sempatkan ke Gramedia yg terletak di mall itu, saya ingin menambah koleksi bacaan. Baru kali ini saya beli novel dengan genre yang agak beda, dulu saya sukanya yg konyol2, atau andrea hirata, setelah itu tidak ada saya tidak punya preferensi novel apa yang saya beli. Akhirnya pilihan saya jatuh ke “Babad Walisongo” oleh Yudhi AW. Saya baca judulnya aja ngantuk, tapi saya memang menantang diri saya, bahwa inilah saatnya mencintai sejarah dan budaya kita sendiri. Kadang saya bingung lho, katanya orang Jawa tapi tidak tahu Walisongo, parahnya lagi 4,5 tahun di Surabaya, sering ke Ampel tapi mampir dipinggirnya Ampel, di sana ada wisata kuliner malam “kambing oven”, kalau ditanya masjidnya dimana? *Entahlaah*..huahaha *paraaah!!*

Tapiii, setelah baca selembar buku itu, jadi penasaran selanjutnya. Rasa itu juga mulai datang kembali! Tadi melihat sekilas buku2 di Gramedia, saya mulai tertarik sejarah bangsa ini, sempat lihat ada “Majapahit” langsung dug dug seer pengen beli, tapi sudah terlanjur beli walisongo. Ya sudah next chance! #Challenge accepted!!!

Btw, lagi males ngomong yang berat2. Kebetulan mau mengomentari film yang pernah saya nonton di HBO Signature. Film ini berjudul “Dinner with Friends” dari judul aja ngantuk, tapi karena saya pecinta film saya harus menerima tantangan menonton film dengan judul tidak menarik. Film ini dibuat pada tahun 2001 dan ternyata adaptasi dari judul yang sama pada tahun 1998, busyeet saya masih SD ke SMP. Saya betah2kan menontonnya, eeh lama kelamaan penasaran dan bagus. Saya menonton versi 2001. Foto diambil dari imdb. Skor di imdb 6.3, padahal film ini bagus lhoo, dari segi plot cerita, ide cerita, akting, dan  settingnya top lah.

dinner with friends

Berkisah empat sahabat. Gabe dan Karen adalah sepasang suami istri paruh baya yang bahagia, sahabat2 mereka, Tom dan Beth yang juga pasangan suami istri sering mengadakan makan malam bersama untuk berbagi cerita dan berbagi moment seperti natal, thanksgiving, dan acara2  lain. Tak  terduga, sahabat mereka merencanakan perceraian, ternyata Tom dan Beth telah lama menutupi ketidakharmonisan mereka kepada Gabe dan Karen. Suatu malam, ketika makan malam, Beth datang seorang diri bersama anak-anaknya ke rumah Gabe dan Karen. Dan Beth tiba2 menangis dan menceritakan kisah perselingkuhan suaminya dengan wanita pramusaji. Gabe dan Karen yang bahagia terkejut mendengar pernyataan Beth dan mereka merasa bahwa jalan yang diambil sahabat2nya itu adalah jalan yang salah, karena mereka selalu bersama dari waktu ke waktu mulai dari kuliah hingga sekarang, ditambah lagi kasihan dengan anak2 mereka. Tapi, keputusan Beth dan Tom sudah bulat.

Gabe dan Karen saling memberi pengertian ke sahabatnya masing2. Hingga akhirnya, Gabe dan Karen menerima kenyataan tersebut. Mereka masih berpikir bagaimana bisa dari saling mencintai hingga pada akhirnya saling membenci dan bercerai. Hingga suatu saat sahabat2 mereka berkata bahwa, mereka saling mencintai dan menikah karena mereka terinspirasi Gabe dan Karen yang sangat bahagia dan romantis.

Gabe dan Karen sedih mengetahui hal ini. Mereka tidak tahu apakah masih bisa mengundang makan malam mereka lagi beserta pacar2 mereka. Setelah mengetahui sahabat2 mereka bercerai dan mempunyai pacar lagi, Gabe dan Karen merasa membenci mereka karena mereka telah ada di masa lalu Gabe dan Karen. Bagaimana mereka menghadapi permasalahan itu, silahkan menonton ya…

Jujur agak sedih juga melihatnya, selain menjadi pelajaran buat kita2 yang sudah berumah tangga, karena masalah yang mereka hadapi juga kita hadapi.  Ada pesan moril dari film ini mengapa Gabe dan Karen dapat mempertahankan pernikahannya. Selain itu juga, saya suka film ini karena mendekati realita. Dan juga perasaan yang nyata tentang sahabat yang bercerai juga penonton bisa rasakan kenapa Gabe dan Karen begitu sedihnya. Sayangnya, film ini tidak ada akhirnya, jadi hanya sepenggal pengalaman dan perasaan Gabe dan Karen yang melakukan tradisi makan malam bersama sahabat2nya.Setting cerita juga bagus bervariasi, ending nya tidak ketebak, kalau penasaran silahkan menonton ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s