menempuh master di Belanda

Lama gak pernah posting.. hampir setahun ini sibuk kuliah, secara master by course di sini 120 EC (European credits) atau SKS (satuan kredit semester). Untuk saya sendiri setahun pertama schedulenya penuh dengan course 55 EC,  dan sisanya 65 EC dilakukan tahun di kedua. Tahun kedua nanti terdiri atas internship (20 EC) dan master thesis (45 EC).

(Uda tua-tua gini disuruh internship.. haha? Ampun deh, tapi uda masuk ke program wajib jadi mau gak mau jalanin aja).

Hal-hal perlu diperhatikan saat sekolah di sini adalah:

  1. Kuartil, ya, sistem perkuliahan di sini kuartil (per 3 bulan). Ini  ada enak dan gak enaknya. Enaknya lebih fokus karena mata kuliah yg diambil per kuartil-nya sekitar 12.5/15 EC jd sekitar 2-3 mata kuliah. Gak enaknya, banyak, karena waktu yg singkat, semua mata pelajaran harus cepat dikuasai. Dan pace-nya jadi lebih cepat. Tiba2 uda final exam, perasaan baru kemarin exam. Belajarnya harus super cepat juga karena kalau tidak akan mudah ketinggalan palajaran.
  2. Lebih jelas penilaiannya, jadi pertama sebelum mulai masuk pelajaran, dosen menjelaskan cara penilaian dan kriteria kelulusan. Jadi mahasiswa bisa komplain juga kalau tiba2 muncul nilai yg tidak sesuai dengan harapan. Biasanya penilaiannya dari assignment dan exam. Examnya ada yg berupa written test, oral test (biasanya presentasi dan tanya jawab). Ada pula yg hanya written test atau oral test tanpa assignment lainnya.
  3. Siapkan Laptop yg handal, karena bakalan 24 jam pakai komputer. Bahkan ada beberapa exam pakai laptop dan kirim hasil by email.

Kaya’nya itu saja sih untuk sekolah.

Kalau soal cuaca, di sini tidak terlalu bersahabat untuk orang Indonesia, secara kita beriklim tropis sedangkan di sini sub-tropis sedang yang berarti dingin. Pertama ke sini saya merasa excited dengan suhu di sini. Karena saat saya datang di sini pas musim panas sekitar bulan Agustus, tapi…

  1. Angin, walau terkadang cuacanya hangat, terkadang angin membuat dingin.
  2. Musim dingin, untung pertama musim dingin di sini tidak ada salju. Suhunya memang dingin sekitar minus sampai 5 oC. Jangan lupa untuk selalu pakai long john saat winter, perlengkapan winter(sarung tangan, topi, syal), dan jaket tebal.
  3. Tiba2 hujan tak menentu, tapi untungnya hujan di sini tidak seperti di Indonesia yang curah hujan yang tinggi sampai banjir. Di sini hujannya kadang hanya rintik2.
  4. Seringnya langit sedikit mendung. Mulai 2 minggu kemarin cuaca mulai hangat, terik matahari mulai tampak cerah. Kebanyakan orang2 sini menhabiskan waktu dengan sun bathing di taman dan minum2. Bagi saya sih biasa saja, karena kita dapat sinar matahari setiap hari. Dan minggu ini mulai hujan2 lagi setiap harinya.
  5. Musim panas, akan ada dimana hari terasa sangat panas dengan suhu 30 oC dan kelembaban rendah yg membuat kita merasa kering. Tapi itu cerita teman Belanda saya. Saya belum mengalami secara langsung, setelah diprediksi itu akan terjadi saat puasa.. Semoga saya kuat. (Karena imsak akan mulai jam 3 pagi (subuh) dan buka jam 21-an malam (maghrib)).

Mungkin itu saja yang bisa saya share kali ini. Doakan saya lancar ya menempuh kuliah di sini, segera berkumpul dengan keluarga tercinta di Tanah Air..

 

 

 

Admission for Master Programme

Hai..hai blogku.. sudah lama sekali tidak posting disebabkan 1 faktor yaitu KEMALASAN. Padahal, banyak sekali yg bisa dijadikan bahan cerita. Tapi entah mengapa KEMALASAN ini melanda.. =(

Sebelum berangkat mengambil sebuah keputusan besar ini, saya pernah berjanji ke seorang teman untuk upload bagaimana bisa, penulis sekolah di negeri kincir angin ini? Sudah jelass, kalau penulis ini bukan orang kaya, pintar amat juga gak, beruntung? bisa jadi. Tentu saja dengan “beasiswa”. Beasiswa ini prosesnya panjang dan lama, karena hambatan teknis dan non teknis. Hehe..

Hambatan utama dalam masalah teknis ini adalah nilai IELTS yg kurang. Saya bukan orang yg bisa mudah belajar bahasa. Kadang saya merasa bahwa kemampuan bahasa seseorang itu adalah “gift”. Kalau memang bukan bakat di situ susah kan yaaa.. Tapi alhamdulillah saya bukan orang yg pantang menyerah! Saya berusaha sekuat mungkin mengejar kekurangan itu hingga sekarang. Masalah kedua adalah biaya. Ini untuk biaya tes2 bahasa atau biaya les bahasa.. =), selain biaya2 itu juga biaya pengiriman dokumen ke universitas setelah universitas menerima kita. Dan biaya yang penting adalah biaya takterduga kalau beasiswa belum cair saat sebelum berangkat/sudah berada di sana. Semua masalah biaya ini selesai dengan “utang”… =)

Kalau masalah2 non teknis seperti beasiswa yang telat, SK yang lama, dll. Itu semua birokrasi. Saya kurang paham soal itu.

Setelah sudah yakin dalam hati dengan seyakin-yakinnya, teguh pendirian, kuat secara mental dan fisik.. (halah nulis apa siih?) Mulailah hunting universitas. 1) Pastikan negara mana yg diminati & info biaya hidup; 2) bidang yang diinginkan; 3) info universitas. Dulu sih seingat saya, cara nyarinya sesuai dengan urutan itu. Nanti kalau gak ada sesuai dengan yg diinginkan berarti mencari ulang lagi dari awal.

Dan satu hal yg penting adalah info dari teman – teman yg sedang studi di sana/sudah lulus dari sana. Gali info sebanyak-banyaknya, karena kadang website bisa saja tidak sesuai dengan kenyataan. Terutama kalau ada teman2 dekat, mereka tidak mungkin bohong dengan kondisi yg ada.

Mulai membuat CV, motivation letter, dan kata2 yang indah untuk mencari supervisor.

Tapi karena penulis ini mengambil masternya by course di Belanda, jadi saya menjelaskan step by step daftar di sana.

  1. cari website universitas, kemudian masuk ke jurusan yang akan diambil, catat dan pertimbangkan bidang dan mata kuliah yang akan diambil. Kebanyakan universitas Belanda, untuk daftar master umumnya bisa online. Isi formulir aplikasi onlinenya. Umumnya, CV (kalau bisa yg standard europass), scan IELTS, motivation letter, reference letter (siapkan 2, untuk yang sudah kerja; 1 dari dosen waktu s1 dan senior/kepala di kantor, format bebas), transkrip dan ijazah versi elektronik. Tinggal upload dan submit. Sambil menunggu itu, siapkan dokumen legalisir transkrip dan ijazah (karena kalau diterima, semua dokumen di atas dikirim aslinya ke universitas).
  2. Bila ada subyek email: “1xxxxxxx0 Accepted – University of T*****”. Pada saat itu juga sudah dikirim pula LoA baik dikirim via email ataupun pos. Ikuti prosedur, kirim dokumen dan EAF (Entrance Acceptance Form). “In order to continue enrolment procedures we require the following documents, if you haven’t provided them yet.”
    – Certified copies(*) of your original Bachelor degree certificate
    – Certified copies(*) of your original final transcript of records
    – Official translations (if applicable)
    – Your official English test report

    • Biaya pengiriman dokumen ini sekitar Rp. 372.000,- ke Eindhoven dan Rp. 381.000,- ke Enschede. Itu lewat pos Indonesia dan sekitar 5-7 hari dokumen akan sampai ke universitas.Pada akhirnya saya memilih Twente, karena LoA di Twente datang duluan daripada Eindhoven, sedangkan scholarship provider ingin segera LoA dikumpulkan karena untuk membuat SK.
  3. Setelah itu mengurus VISA. Silahkan baca di web ini. Kemudiaaan, ternyaaataaaa ada dokumen lagi yg harus dikirim untuk mengirim VISA seperti Declaration of Intent, Antecedents Certificate, Tuberculosis Document, dan “copy Paspor, semua halaman”, 4 dokumen itu harus dikirim secepatnya, karena waktu saya daftar itu uda mempet dengan waktu intake. Jadinya saya harus mengirim dokumen itu ke Belanda dengan biaya Rp. 741.000,- dengan jasa DHL.
  4. Setelah itu, mengurus housing dengan apply di website universitas. Setahun pertama, seluruh mahasiswa dapat jatah 1 tahun untuk tinggal di furnished room. Setelah itu harus mencari sendiri. Untuk housing nanti akan dibahas lanjut sekalian biaya hidup. (Kalau ada waktu sih… hehe, kalau gak sabar bisa komen di bawah pasti saya balas!)
  5. Melakukan pembayaran VISA sebesar 307 Euro.
  6. Ada pemberitahuan bahwa VISA sudah keluar dan bisa diambil di kedutaan besar.
  7. Siapkan translate birth certificate/ buat yang baru versi bahasa Inggris.

Sepertinya itu saja sih tahapannya. Siapkan mental dan fisik, karena bakal ketemu dengan banyak orang dan mondar mandir untuk mengurus semua dokumen tsb.

Good luck!

 

Me and Horcruxes

Sebagian dari jiwaku hilang…

Mengambil istilah dari harry potter dictionary.. horcrux (atau horcruxes ‘bentuk jamak’) adalah suatu tempat, benda mati atau hidup yang digunakan oleh penyihir jahat untuk menyembunyikan sebagian jiwanya agar dapat hidup abadi. Hmm.. ya seperti itulah gambaran horcrux -nya, tapi beda dengan maksud horcrux di sini ya…

Beberapa hari ini saya menikmati sekali kehidupan yang sebentar lagi  saya tinggalkan.. Ciee laaah.. Lebay, gak juga sih. Rasanya itu seakan-akan menghadapi hari terakhir di zona nyaman, ada perasaan khawatir, cemas. Gimana gak, meninggalkan seorang anak dan suami untuk pergi ke negeri antah berantah, mau balik juga susah, jauh, dan mahal. Ini pengorbanan yang paling berat sepertinya..

Belum, belum, uda lebaay, uda kangen2an sama mereka berdua.. Perasaan sudaah berat dan agak sedih. Sebenarnya saya hanya berjaga2 saja, biar gak terlalu stress dan berat meninggalkan mereka, makanya sekarang saatnya menghabiskan waktu bertiga dengan berkualitas. Sekarang aja bisa haha hihi, melihat temen2 laskar beasiswa kangen sama keluarganya, ada juga yang laki2 sampe menangis sebulan, mungkin cuma guyon aja ya.. Tapi.. di sini temen2 laskar yang belum berangkat bisa haha hihi melihat mereka2 yang kangen..

Kalau dipikir2 keluarga itu seperti horcrux. Jadi maksud saya, dulu waktu kita masih single/lajang jiwa saya masih sepenuhnya saya miliki. Setelah itu, kita mulai berpacaran dengan calon suami, nah saat itu juga kita juga sudah mulai menyimpan sebagian jiwa kita ke orang lain. Kemudian, menikah dengan seseorang, saat itu juga sebagian dari jiwa ini sudah  berkurang, karena itu ada sebutan belahan jiwa, soul mate, garwa (bahasa jawanya sigaraning nyawa, separuh nyawa). Akhirnya punya anak, sebagian jiwa kita lagi sudah terbelah di anak. Kalau punya banyak anak semakin banyak pula kita menyebarkan horcrux. Horcrux ini yang membuat kita kuat dan panjang umur (atau abadi kalau dari film harry potter).

Kalau ada sesuatu telah terjadi (sakit atau hilang) pada salah satu horcrux kita, maka kita juga akan merasa sakit dan lemah. Bila horcruxes kita bahagia, senang, maka kita juga semakin kuat dan bahagia, karena itu kita bisa panjang umur (abadi). Hehehe… ini hanya hipotesa asal2an ala2 Harry Potter. Jangan dimaksukkan ke hati.

Nah, btw, sebentar lagi saya akan pergi meninggalkan horcruxes saya di sini. Semoga horcruxes saya bahagia dan selalu semangat menjalani hidup ini tanpa saya. Dengan begitu saya bisa jadi lebih kuat dan gembira menghadapi kemungkinan apapun yang ada di sana.

Semoga semua berjalan dengan baik. Amiin…

Hal tergila yg pernah dilakukan

Lama tdk menulis di blog, karena penulis sedang menyibukkan diri..hehe..(sok sibuk!) Tapi memang beberapa hari ini entah saya yang beneran sibuk atau karena sok sibuk?

Bulan lalu saya kembali ke kampung halaman, mengisi waktu libur kecepit tanggal 15 Mei yg lalu. Perasaan yang selalu sama saat kembali ke kampung halaman adalah ingin selalu kembali berada di kota itu, melihatnya berkembang, dan menikmati slow pace yang ada.

Pembukaan yang gak nyambung dengan judulnya. Beberapa hari ini sibuk mengurusi admission university, sekaligus visa, paspor, dan printilannya yang sangat mbulet. Hehe.. Sampai beberapa kali bertanya ke teman2 seangkatan dan teman yang sudah masuk kuliah. Mungkin mereka bosen saya tanyai terus menerus… Yah, daripada bingung.. tapii jadinya banyak bertanya sesat di jalan… hehehe… Nanti saya akan coba posting hal2 apa saja yang perlu disiapkan untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. (Gak janji ya.. hehe)

Salah satu hal tergila di tahun 2015 ini adalah akan berangkat sekolah ke negeri antah berantah.. Huhuhu… Kalau banyak yang mengira saya seneng itu salah, ini antara terpaksa dan impian yang akhirnya membuat hal ini terasa berat juga ringan.. (Bingung kan? Samaa…. saya juga). Intinya sekolah krn terpaksa keadaan dan juga impian di masa depan (Halaah!).

Beberapa hari ini bermimpi hal2 yang aneh berkaitan dg sekolah, seperti gak selesai ngerjain tugas, gak bisa ngerjain test, nyasar di jalan, hidup sendiri dan menerungi nasib, yang pasti kangen sama keluarga tersayang, dan lain-lain sampe capek. Semua mimpi itu tampak riil, ini yang kadang bikin saya ngos2an pas bangun. Capek rasanya mimpi seperti itu. Belum mengalami tapi sudah berfantasi..Hehehe

Sekarang sudah sekitar 2 bulan lagi saya berangkat. Perasaan stress kerap melanda.. (Yaelaaah…>.<) Kayanya ini adalah the craziest thing I’ve ever done this year.

Meninggalkan semua kenyamanan yang telah dibangun untuk sebuah impian, itu rasanya excited sekaligus worried.

Menyenangkan karena akan mengalami hal baru di tempat yang baru. Khawatir akan semua hal yang tertinggal di sini, takut tidak berhasil, takut tidak bisa bergaul, takut tdk mendapat tempat di sana.

Semoga saja saya mampu bertahan, rasanya cukup mampu (inshallah)..Wish me luck..

Sebagai pengingat, hal2 gila yang pernah saya lakukan:

tahun 2007 :

  • pulang-pergi sby gresik hampir setiap hari bareng vivi (partnerku sayang..).
  • pulang kampung halaman naik motor beramai2 dengan teman2.

tahun 2008 :

  • melamar bekerja mungkin hingga 30 an kali.. (mungkin ya.. lupa juga). Tapi sempet bolak balik jakarta-malang/surabaya. Pengalaman pertama kali naik pesawat

tahun 2009 :

  • Pindah ke jakarta untuk bekerja (saat itu sudah merasa seperti hal tergila yang dilakukan). Bayangkan saya anak kampung ke megapolitan Jakarta!
  • Pertama kali ke luar negeri, ke Singapura dan Cina. Uda berasa seperti orang kece se-Nusantara. Hehehe…

tahun 2010 :

  • Menikah (antara yakin dan gak yakin).

tahun 2011 :

  • Punya anak, pleasee operasi sesar dunks… Hehe… (Bener2 gila sakitnya, tapi double gila bahagianya punya anak).

tahun 2012 :

tahun 2013 :

  • Terlantar berdua di Jerman dengan temen kantor beemurti.. Hehehe.. Bener2 gila, ngomong Jerman gak bisa sama sekali. Bahasa Inggrisku juga acak kadut. Ditambah lagi, orang di sana diajak ngomong Inggris juga gak ngerti. Bisa pulang dengan selamat itu suatu berkah tak terkira.

tahun 2014 :

tahun 2015 :

  • Ikutan tes IELTS 2 kali… hehehe (Sebelumnya uda pernah nyoba 2 kali (1 kali akhir th 2013, 1 kali akhir th 2014)… sampai akhirnya tahun 2015 ini dapat pas bgt sama min. requirement-nya dari universitas..)
  • Sekolah ke luar angkasa… >.<

What’s next???? Let see..

Dari LoA sampai Departure

Dari bulan Maret kemarin saya sedang sibuk-sibuknya mengikuti tes bhs inggris IELTS. Saya di sini tidak akan memberi tips, karena saya sendiri juga tidak jago amat.. Hehe.. Tapi saran saya satu: perbanyak latihan sendiri dan biasakan dengan soal2 IELTS (terutama listening), karena soal IELTS tidak bisa diulang, jadi harus biasakan dengan soal2nya. Selanjutnya perbanyak doa dan berserah diri…😉

Sampai akhirnya saya memperoleh nilai pas dengan min. score requirement. Alhamdulillah bisa daftar dan mengisi aplikasi online di website universitas. Untuk para siswa yang mengambil master, maka perlu bagi mereka memenuhi syarat yang ditentukan oleh universitas, termasuk IELTS. Tapi, temen2 yang mengambil doktor, tidak perlu syarat2 tersebut, yang diperlukan adalah kontak dengan profesor yang sesuai dengan bidangnya dan mengajukan diri untuk melanjutkan sekolah s3. Karena saya masih mengambil master, jadi saya harus memasukkan persyaratan admission universitas, seperti,

  1. Ijazah, transkrip (beserta beberapa lembar kopian legalisir dari universitas kita), bila itu masih dalam bahasa Indonesia, maka perlu diterjemahkan dalam bahasa Inggris, sebaiknya melalui penerjemah tersumpah.
  2. Paspor (untuk yang ini tentatif, tidak semua admission diminta.)
  3. Kopian IELTS yang sudah dilegalisir (tapi kita tidak mungkin dapat legalisiran, kita harus meminta kepada lembaga penyedia IELTS untuk mengirimkan original copy IELTS dan kita harus membayar biaya pengiriman tersebut.)
  4. Surat rekomendasi dosen / pembimbing kita yang dulu.
  5. Surat rekomendasi dari atasan kita.
  6. CV (curriculum vitae), bila ingin mendaftar di Eropa, sebaiknya menggunakan format yang dari Europass.
  7. Deskripsi dari mata kuliah yang pernah kita ambil (Silabus)
  8. Rangkuman / proposal riset (jika perlu)

Bila semua dokumen sudah lengkap, maka mendaftar sekolah akan menjadi lebih mudah. Kemarin saya mendaftar ke 2 universitas, pertama Eindhoven dan kedua Twente. Untuk keduanya berbeda cara pendaftaran tapi dokumen yang diperlukan SAMA. Untuk mendaftar di Eindhoven perlu mengisi aplikasi online dan terakhir mengirimkan dokumen di yang saya sebut tadi langsung ke universitasnya melalui pos. Karena itu untuk legalisir ijazah, transkrip, dan terjemahan sebaiknya disiapkan lebih dari satu bila ingin mendaftar ke beberapa universitas.

Selanjutnya tinggal mengirim ke alamat tercantum di aplikasi online. Bisa melalui pos indonesia atau dengan jasa DHL. Biaya pengiriman dokumen ke Belanda melaluri Pos Indonesia jauh lebih murah dibandingkan lewat DHL, bisa separuhnya Brooooow…. Pos Indonesia hanya Rp. 381.124,- (waktu pengiriman 5 hari kerja), sedangkan DHL Rp. 714.042,- (waktu pengiriman 2 hari kerja).

Renungan siang bolong

Kemarin pas lagi asyik-asyik mau kerja, eh ada yang minta pendapat dan ngajakin diskusi. Hehe… jadinya ngobrol sampe siang.

Kadang pilihan antara menjadi ibu RT dan wanita karir secara bersamaan menjadi dilema berkepanjangan bagi kaum hawa. Saya contohnya, galau gak keluar2 dari kantor.. Huehehe… Tapi memang dasarnya saya juga tidak bisa tidak bekerja.

Tiba-tiba kemarin saya ditanya sama junior saya di kantor, hehe.. tapi seumuran ya cuma masuk kantornya duluan saya (lumayan laah senior dikit). “Kira2 ke depannya rencana Mbak gimana?”

“Rencana apa?” tanya saya yang bingung.

“Rencana jadi ahli apa? Atau rencana mau fokus di bidang apa?” tanya teman saya itu.

“Oh, itu? Saya belum mikir malah, saya mah jalani aja apa yang ada dihadapannya saya. Saya gak pernah mikir mau jadi apa? Nanti bagaimana? Yang penting apa yang ada ya dikerjain.” jawab saya santai.

Memang gak mudah kerja di bidang penelitian tapi gak ada yang diteliti…ups! hehe.. Masalahnya klise, selalu anggaran dana. Maunya penelitian ini itu, tapi percuma nyampe ke industri aja nggak didukung dana aja nggak, keliatan masih dalam masa penelitian skala lab langsung dicut. Terus ngapain pusing? Negara saja santai, masa kita staf aja ribut? Hehe…

Mungkin awal saat saya bekerja, saya sangat ingin pekerjaan yang menghasilkan output. Tapi pas sudah mulai berkeluarga, pekerjaan seperti ini cocok dengan saya. Pertama, fleksibel, secara waktu sangat penting buat ibu-ibu. Di saat-saat genting untuk urusan anak dan suami, dengan mudah saya bisa urus. Kedua, pekerjaan yang tidak terlalu berat, namanya aja pekerjaan penelitian, jadi asal gak keluar dari time schedule sih aman, Seringan di Lab, tapi yang lain juga kadang di lapangan (untung gak pernah dapat). Ketiga, jarang dinas, memang dulu sering tapi setelah punya anak, saya selalu berusaha jadi orang yang stand by di meja. Mendingan jadi yang mengolah data, atau membuat laporan asal kan di kantor. Hehe…

Tapi… nggak enaknya adalah… tuntutan akademik diwajibkan. Namanya aja lembaga penelitian, menuntut ilmu itu jadi wajib hukumnya. Hehe.. Aneh ya? mungkin di kantor lain, asal dia profesional gak masalah gak punya jenjang yang lebih tinggi. Nah, ini yg kadang menjadi kendala di sini, seribu alasan dikerahkan.

Dan akhirnya, mau gak mau ya harus. Berkaitan dengan itu, teman saya ini juga sudah disounding2 untuk lanjut lagi sekolahnya. Tapi, karena bidangnya agak jauh dengan visi pusat saya, makanya dia ingin diskusi bidang yang mau diambil. Saran saya, ambil yang disuka dan kira2 bisa luas aplikasinya.

Tapi sebenarnya kalau saya sih ya, terserah kantor mau kaya’ apa. Prioritas adalah keluarga. Sumber kebahagiaan saya (inshallah dunia dan akhirat) adalah keluarga. Sebenarnya sih alasan saya sekolah ini, juga karena keluarga. Tapi gak bisa diomongin di sini. Rahasia. Hehehe… Penting ya? Saya pengen bisa ngajari anak saya bahasa Inggris nantinya, selain itu ingin punya wawasan lain yang mungkin saya lama terkurung kerja di sini. Ingin merefresh otak dengan ketemu orang-orang banyak dan bertukar pikiran.

Tapi karena melihat jawaban dari saya begitu. Teman saya pun masih bingung menentukan arah. Terakhir dia bilang, “Beda banget sih ngomong soal sekolah sama Mbak Gawir sama mbak itu (Adalaah..). Kalau jawaban mbak Gawir nyantai banget dan keliatan gak terlalu ambisi mau jadi ahli apa ke depannya. Tapi kalau mbak itu, punya rencana untuk ke depannya.”

“Hehehe.. ya setiap orang kan prioritasnya beda dan tujuannya beda. Barang kali dengan gak punya tujuan dan visi di awal, mungkin memang ini jalan saya agar tahu tujuan saya yang sesungguhnya.”

Jadi, kesimpulannya gimana???

Sementara.. harta yang paling berharga adalah KELUARGA…

Review Film: Eventually, Doraemon after The Hobbit

Nah, ini sebetulnya cerita yang kurang patut.. Hehehe.. Nakal sedikit bolehlaah ya, asal kerjaan beres. Istilahnya Work hard, play hard! =)

Hari kamis dua minggu yang lalu, kebetulan yang didamba2kan oleh seorang staf adalah ketika bos beserta para senior dinas ke luar kota.. Huahaha… jd bisa bebas dan pekerjaan tidak terlalu diawasi. Apalagi ini sudah akhir tahun, kondisi sudah tidak kondusif lagi, teman2 kantor juga sudah mulai merencanakan cuti bahkan ada juga yang sudah cuti. Lagi asyik2nya ngobrol, eeeh ada yang nyeletuk pengen nonton Doraemon. Secara aku ini fans beratnya Doraemon. Film itu ya dari jaman aku SD kelas 1 sampai kerja sekarang, si Nobita gak lulus2 SD… Kasiaan.. Huehehe…

Karena pas nyeletuk “pengen nonton” ada setan lewat dan denger. (aku setannya. Hehe..) Langsunglah aku dan teman aku cuss ke TKP. Gak mudah mencapainya, karena tau sendiri kantorku itu gak ada di Google Map. Huehehe… Perjalanan selama kurang dari 1 jam, ada insiden kecil juga. Di area jalanan kantor, polisi sedang getol2nya operasi. Sebetulnya operasi tersebut random sampling, dan mungkin beberapa pengendara yang memang jelas2 salah, misal: tidak bawa helm, lampu mati, dll. Nah, temanku ini SIMnya mati (sebenarnya gak masalah kan tidak terlihat). Tapi karena temanku itu baik hati, polos, dan rendah hati langsung grogi dan berhenti doong.. Pak polisi juga bingung, knp tiba2 aku dan temanku berhenti? Huahaha… Dengan sigap, aku yang menggantikan menyetir, karena SIMku masih ada. Pak polisi dengan senyum meminta SIM dan STNK. Untungnya, aku sudah bersiap menyetir, jadi aman. Cuman sepanjang jalan, kami ketawa. Dan bodohnya knp td berhenti??

Pas nyampe TKP, ampuuun deh antriannya ngalah2in antri di pom bensin, dan lagi banyak adek2 SD, SMP, dan SMA mengantri. Dan untuk jam berikutnya sudah penuh. Akhirnya kami pindah haluan dan menonton “The HOBBIT : The Battle of the Five Armies”.

Sebenarnya kami gak terlalu tertarik dg film ini, secara perang2an gt. Aku gak terlalu suka action. Jadinya selama ntn agak2 gak nyambung, tapi berusaha ngerti. Tapiii, film ini menurutku pribadi bagus banget, setting tempatnya yang luar biasa indah, efek gambarnya juga bagus. Pas scene pertama, pertarungan dengan naga, memang agak terlihat kasar efeknya, tapi tetap bagus. Dari segi cerita, cukup bagus, mungkin bagi pecinta Hobbit, ceritanya luar biasa, bagiku orang awam yang tiba2 ntn Hobbit, ceritanya cukup bagus dan terlalu banyak aktor baru yang masuk. Dan sampai sekarang aku masih bingung, aktor utama di film itu siapa? Huehehe…

Intinya di antara Dwarf, Elf, dan manusia terdapat sengketa tentang harta karun, namun melihat dahsyatnya lawan, akhirnya mereka bersekutu. Di akhir cerita, petarungan berlangsung dengan 5 bala tentara, yaitu Dwarf, Elf, dan manusia melawan Warg (Serigala) dan tentara Orc (Goblin). Foto ini diambil dari imdb.

The Hobbit_Five Armies

Berkaca dari kesalahan sebelumnya, aku dan temanku merencanakan lagi menonton Doraemon. Kami memutuskan di minggu akhir Desember, kemungkinan kondisi kantor yang semakin sepi dan film Doraemon juga semakin sepi penonton.

Penantian itu akhirnya datang juga, kemarin aku dan 2 orang teman menonton Doraemon. Semua berjalan sesuai dengan rencana, jalanan sepi, dan bioskop pun sepi. Ekspektasiku terhadap film Doraemon ini tinggi. Secara review dari seorang teman di kantor, dia sampai terharu ketika menontonnya, bahkan sampe nangis, ada yang bilang bahwa ini film terakhir Doraemon, dan ada juga yang bilang ini awal mulanya Doraemon. Jadi mati penasaran khaaan??

Kisah berawal dari kedatangan Doraemon dari masa depan dengan cucu Nobita. Tujuan Doraemon ini untuk membantu Nobita menghadapi kehidupan sehari-hari. Nobita yang selalu terlambat, pemalas, dan ceroboh sangat terbantu dengan adanya Doraemon. Kisah ini terdiri dari beberapa cerita Doraemon yang di satukan dalam film. Doraemon berusaha membantu Nobita mengejar impiannya untuk menikah dengan Shizuka. Setealh itu, Doraemon harus pergi setelah Nobita bahagia karena dapat menikah dengan Shizuka di masa depan. Scene mengharukan di bagian akhir, ketika Doraemon pergi meninggalkan Nobita.

Secara pribadi, cerita ini kurang pas untuk anak2 SD, mungkin SMP sesuai. Di film ini, cerita terfokus ke cerita Nobita yang berusaha mendapatkan Shizuka dan menikah dengan Shizuka. Masa’ anak2 begini?? Dan lebih mengejutkan lagi ada salah satu adegan yang tidak sesuai dan sopan, seperti Nobita yang berusaha dibenci oleh Shizuka dengan menyingkap roknya hingga terlihat “CD-nya”. Yaah masa’ anak2 mikir begini?? Kemudian ada lagi sikap Shizuka yang menampar Nobita karena marah. Serius anak2 SD nampar?? Sedikit kecewa dengan alur ceritanya. (Menurut aku, tidak terlalu mengharukan seperti film Doraemon yang lain). Tapi, overall bisa mengobati kangen kita dengan Doraemon… Doraemon, I am still loving you…=)

stand-by-me-doraemon